Cari Blog Ini

The Moon That Embraces the Sun 18

Bloody Precursor

Malam semakin larut dan Raja siap tidur, ia tanya, berbaring bersama seperti ini rasanya menyenangkan, ya kan?

Yeon Woo berbaring di samping Raja, dan membenarkan. Rasanya menyenangkan.
Raja : Tapi apa ini tidak keterlaluan Hyung Sun?

Hyung Sun duduk dengan mata tertutup kain diantara Raja dan Yeon Woo hahaha..ia bertugas memastikan tidak akan terjadi 'insiden' diantara keduanya.

Hyung sun merasa ini memang perlu dilakukan. Raja kesal, apa kau pikir aku akan...sebelum menikah, kau tidak mempercayaiku?!

Hyung Sun percaya pada Raja, tapi ia tidak percaya pada sesuatu didalam Raja, hasrat pria muda yang sudah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Raja kesal sekali dan menendang-nendang selimutnya, tapi kalau seperti ini, bagaimana aku bisa tidur!

Hyung sun membuka tutup matanya dan ia minta Raja membuat kesepakatan. Raja duduk, kesepakatan apa?
Hyung sun : Bagaimanapun...tidak boleh..sama sekali tidak boleh menyerah pada insting anda. Jangan menyentuh sehelai saja rambut Agassi.

Raja marah dan teriak, kau ini benar2 semakin lama semakin keterlaluan!

Yeon Woo akhirnya duduk dan memanggil Hyung Sun, Tuan.
Hyung Sun menoleh, tapi ia menutup matanya karena dilarang melihat langsung wanita milik Raja.

Yeon Woo membujuk, Yang Mulia dan saya sudah terpisah selama 8 th. Coba pikirkan hari2 itu saat kami terpisah. Benar2 berharap tidak akan terpisah lagi dan memikirkan Yang Mulia setiap detik, setiap menit.
Saya mohon, paling tidak, disini di kegelapan malam, ijinkan saya melihat Yang Mulia.

Hyung sun melunak, Saya akan menganggap ini permintaan dari seorang anak pada ayahnya, saya menyarankan anda untuk saling memandang satu sama lain sebanyak yang anda inginkan.

Hyung Sun berusaha berdiri, sedikit terpeleset pffttt.. lalu membungkuk pada Raja dan jalan keluar.

Raja mendengus, ia ngomel. Orang itu melayaniku selama hampir 20 th, tapi dia justru lebih mendengarkan permintaanmu.
Raja berbaring dan berkata ia akan mengikuti kemauan Hyung sun yang menyebalkan itu. Dia bisa tenang karena aku tidak akan menyentuh selembar rambutmu pun!

Yeon woo tersenyum dan berbaring menatap Raja : Apa anda serius?

Raja kesal, tentu saja! Pria sejati tidak akan menarik kembali kata2nya. Sama sekali tidak.

Yeon Woo menyentuh tangan Raja. Raja tertegun. Yeon woo tanya, apa Raja akan mengusirnya keluar karena berani menyentuh tangannya tanpa ijin?
Raja senyum : Tidak mungkin. Bagaimana aku bisa?

Yeon Woo memberi petunjuk : Yang Mulia, bukan anda yang menyentuh saya. (Yeon Woo yang menyentuh Raja, jadi ini bukan salah Raja hahaha..)
Raja langsung mengerti dan menggenggam tangan Yeon Woo. Keduanya tidur sambil berpegangan tangan.

Sebaliknya, Ratu Yoon tampak pucat, matanya cekung. Ia tidak bisa tidur. Jo Sanggung lapor kalau dayang yang waktu itu mereka jadikan mata2 sudah tidak di Daejeon lagi.

Raja tiba2 memindahkannya ke istana lain. Bukan itu saja, kecuali beberapa orang yang sudah melayani Raja sejak masih menjadi Putra Mahkota, semua dayang dan pelayan diganti semua dalam beberapa hari.
Ratu Yoon : Dia mengganti semua dayang dan pelayan?
Jo Sanggung membenarkan.

Ratu Yoon merasa ada sesuatu yang disembunyikan Raja dalam kediamannya.

Paginya, P. Min Hwa lari2 di halaman istana, Ny. Heo dan Min Sanggung susah payah mengikutinya, Tuan Putri anda tidak boleh lari.
Min Hwa berhenti dan minta maaf pada ibu mertuanya, ia merasa sangat senang dan ingin segera mengatakan kabar baik pada ibunya.

Ny. Heo mengerti, ia juga sangat bahagia tapi kondisi Min Hwa sekarang membutuhkan kehati-hatian. Tabib istana sudah mengatakannya berkali-kali.

Min Hwa : Ya, ibu. Mulai sekarang saya akan sangat berhati-hati.
Min Hwa jalan pelan2. Ny. Heo dan Min Sanggung mengikutinya sambil tersenyum geli.

Min Hwa berpapasan dengan Hong Kyu Tae. Hong segera membungkuk dan memberi salam. Min Hwa menjawab salam Hong dan tanya siapa Hong.
Hong : Saya petugas Naegeumbu, Hong Kyu Tae.

Min Hwa memuji Hong dan berkata kalau Hong harus setia pada Raja. Hong mengiyakan, ya, saya akan mengikuti perintah Putri.
Min Hwa jalan pergi bersama Ny. Heo dan dayang Min. Hong menatap Min Hwa dengan tajam.

Hong sudah bertemu Raja beberapa saat lalu dan melaporkan penyelidikannya. Ada satu hal yang aneh, sebelum mendiang Raja mengeluarkan perintah untuk menghentikan penyelidikan kematian Putri Mahkota, dia sering sekali mengunjungi Soo Kyung Jae (Istana Kristal, kediaman Min Hwa)

Raja : Istana Kristal..bukankah itu kediaman P. Min Hwa?
Hong membenarkan.

Raja merasa ini tidak aneh, ayahnya memang sangat menyayangi Putri Min Hwa.
Hong : Tapi saya tetap merasa ini sedikit aneh.
Raja : Kenapa bisa begitu?

Hong : Mendiang Raja mengunjungi istana Kristal beberapa kali, dan Putri Mahkota dipilih tanpa proses pemilihan lagi. Ini rasanya seperti..jadi saya diam-diam menyelidiki dayang istana yang bekerja di istana kristal saat itu dan ia berkata kalau Ibu Suri Tua juga sering mengunjungi Istana Kristal.

Raja heran, ini memang aneh kalau neneknya juga sering mengunjungi Min Hwa. Hong melanjutkan, ia sudah menemukan mantra yang harus diselidikinya.
Raja berkata tidak perlu karena ia sudah mengetahuinya dari Gukmu Seongsucheong.

Hong mengerti dan akan pergi. Tapi Raja berubah pikiran dan berkata ingin mendengar hasil penyelidikan Hong.

Hong : Tidak banyak, ini soal mantra. Mantra biasanya menggunakan boneka jerami sebagai medianya, tapi kadang manusia bisa menggantikan boneka itu sebagai media mantra.

Raja : Menggantikan boneka dengan manusia? (Che Woong)

Hong membenarkan, dan jika manusia dengan keinginan kuat digunakan sebagai ganti boneka, maka mantranya semakin efektif.

Raja tertegun, ia ingat kata2 Neneknya, kalau ia melakukan ini demi kebaikan Raja. Lalu Yeon Woo yang berkata kalau mendiang Raja punya alasan menyembunyikan masalah ini. Keterangan Hong. Semua berputar di kepalanya dan Raja sadar, P. Min HWa ada hubungan dengan kematian Yeon woo waktu itu.

Hong Kyu Tae mencemaskan Raja yang diam saja. Raja minta Hong pergi dulu.
Raja : Mengapa...mengapa P. Min Hwa akan..

Min Hwa dan Ny. Heo menghadap Ibu Suri Han. Ibu suri tampak gembira, kau bilang ia mengandung?
Ny. Heo membenarkan, ia melihat Min Hwa sakit beberapa hari ini dan sangat cemas, ia curiga Min Hwa mengandung. Ny. Heo membawa Min Hwa ke tabib istana dan ternyata benar.

Ibu Suri Han senang sekali, ia memuji putrinya. Ini kabar menggembirakan, kau tahu..istana dipenuhi suasana muram akhir2 ini.
Min Hwa minta ijin pada Ny. Heo untuk pulang lebih dulu. Ny. Heo terkejut, apa Min Hwa sakit.

Min Hwa hanya ingin segera mengatakan kabar gembira ini pada Yeom. Kedua ibu itu merasa geli. Ny. Heo berkata seharusnya Min Hwa menemani Ibu Suri Han lebih lama lagi.

Ibu Suri Han berkata kalau anak perempuan, akan menjadi milik keluarga suaminya setelah menikah, jadi ia tidak masalah kalau Min Hwa mau pulang lebih dulu. Ia meminta Ny. Heo tetap disini untuk menemaninya ngobrol.
Min Hwa setuju.

Ibu Suri Han : Tapi kau harus mengunjungi Yang Mulia dulu.
Min Hwa mengiyakan dan pergi.

Raja ingat kata2 ayahnya saat ia masih remaja. Mendiang Raja minta maaf padanya.
PM Hwon : Untuk apa?
(Hore...Yeo Jin Gu kembali!! I love this kid so much..)

Raja : Karena ayahmu tidak mampu melindungi gadis itu. Putra Mahkota, kau sangat pintar dan cerdas. Akan tiba saatnya kau akan mengerti arti kata2 ini, Kau harus ingat apa yang akan kukatakan.
PM Hwon : Katakan pada saya.

Raja minta Hwon memaafkan semua orang yang coba ia lindungi. Tolong lindungi mereka semua.
PM Hwon tidak mengerti. Raja berkata jika Hwon tidak bisa melakukannya, maka orang pertama yang tidak boleh dimaafkan adalah Raja.

PM Hwon : Tolong ampuni kebodohan saya, tapi saya tidak mengerti maksud Aba Mama.

Raja menatap Hwon dan berkata, Putra Mahkota..takhta Raja adalah tempat yang sangat sepi.

Ada orang2 dimana-mana yang akan menjadi musuhmu. Tidak mustahil bagi siapapun untuk jadi musuhmu. Kadang, kau tidak punya pilihan selain membuat keputusan yang berlawanan dengan hati nuranimu.
Kadang, musuh itu..mungkin adalah keluarga dekatmu. Harapanku hanyalah kau akan mampu paling tidak mengampuni ...anggota keluargamu itu.

PM Hwon tanya, orang yang harus kumaafkan dan kulindungi, siapa mereka?

Kembali ke masa kini, tiba-tiba terdengar lagi suara tangisan Min Hwa. Raja ingat saat ia belajar dengan Guru Yeom dan mendadak Min Hwa masuk sambil menangis, Min Hwa kesal karena PM Hwon berkata kalau dirinya tidak pintar di depan Yeom.
Lalu Min Hwa meyakinkan Guru Yeom kalau ia pintar.

Yeon Woo memanggilnya, Yang Mulia! Yang Mulia!
Raja : Kau sudah tahu kan..itulah mengapa, kau tidak mengatakan padaku kalau kau sudah ingat kembali?

Raja berdiri dan keluar kamar. Ia pergi ke ruangan pertemuan. Raja teringat lagi saat ia masih remaja. Raja melihat PM Hwon berlutut di depan mendiang Raja.

Raja teriak : Kau harus berhenti sekarang!
PM Hwon memohon : Yang Mulia, tolong tarik kembali perintah anda untuk membuat Heo Yeom sebagai uibin.

Raja marah dan memerintah PM Hwon untuk berdiri segera. PM Hwon tidak ingin Raja menghentikan seseorang dengan bakat sebesar Yeom tanpa memberikan jabatan resmi apapun.
Kalau begitu, Yang Mulia sebaiknya memberi perintah untuk mengeksekusinya saja.

Raja : Apa bukannya suatu kehormatan untuk menjadi anggota Keluarga Raja? Bagaimana kau bisa membandingkan-nya dengan hukuman mati?
PM Hwon : Apa kehilangan nyawa satu-satunya hal yang dianggap kematian?

Raja tidak mengerti, Apa?
PM Hwon : Saya akan mengikuti perintah anda. Sesuai perintah, saya akan menikah dengan putri Menteri. Tapi saya mohon, Yang Mulia, tarik kembali perintah anda menunjuk Sarjana Heo sebagai Uibin.

Raja : Pergi!

PM Hwon menolak, ia tidak mau pergi sebelum ayahnya menarik kembali perintahnya.

Raja teriak, apa aku harus memerintah penjaga menyeretmu tanpa hormat hanya untuk mematuhi perintah?
PM Hwon : Yang Mulia!
Raja : Putra Mahkota, ikut aku!

Raja jalan keluar, melewati Raja Hwon dewasa. PM Hwon mengikuti Raja bersama Hyung Sun. Raja Hwon dewasa mengikuti mereka.

Raja marah pada PM Hwon, anak tidak berguna. Apa kau tahu bencana apa yang hampir saja kau perbuat?

PM Hwon hanya ingin melindungi Sarjana Heo Yeom. Tapi Raja berkata kalau caranya seperti itu, dengan memperlihatkan perasaan asli PM pada mereka, Heo Yeom dan ayahnya, Heo Yeong Jae..keduanya akan menjadi target politik. Itu baru dua orang. Lalu, mereka akan mulai mempertanyakan kemampuanmu menjadi Raja berikutnya. Itu berarti tiga orang.

Karena kau, semua anak buahmu akan bertanggung jawab dan rakyat Joseon juga kelak akan menderita dibawah pemerintahanmu. Jika kau menjumlahkan mereka semua, cukup untuk menghancurkan seluruh Joseon.
Jika kau membiarkan perasaan pribadimu mempengaruhi keputusanmu, siapa yang bisa kau lindungi?

PM Hwon marah, lalu, apa Abamama ingin saya diam saja? Jika saya tidak melakukan apapun, tidak mengubah apapun, tidak melindungi apapun, dan hanya mengikuti kebiasaan saja, menjadi tanpa kekuatan dan lemah, apa seperti itu yang Abamana inginkan? Menjadi Raja seperti itu. jangan bilang kalau hanya itu yang bisa dilakukan.

Raja : Semakin kau ingin melindungi, semakin kau akan terluka. Semakin kau ingin mendapatkan hal yang kau inginkan, semakin kau akan kehilangan. Ini akan menjadi takdirmu saat kau duduk di takhta suatu hari nanti. Jika kau benar2 ingin melindungi, kau tidak boleh memperlihatkan kelemahan. Kau harus kehilangan satu untuk mendapatkan satu, ini..adalah politik.

PM Hwon : Kalau begitu, Chon Na, apa yang sudah anda pilih? Apa yang anda dapatkan, dan apa yang anda lepaskan?

Raja tidak menjawab, ia hanya berpikir dalam hati, aku kehilangan anak buah yang setia, tapi bisa menjamin keselamatannya. Aku kehilangan Yang Myung-gun tapi bisa melindungimu. Aku kehilangan Putri Mahkota, tapi bisa menyelamatkan adikmu, Min Hwa.

PM Hwon : Saya..tidak akan melakukan hal yang sama. Saya hanya ingin melakukan yang benar. Meskipun saya harus mempertaruhkan semuanya, saya tetap akan memilih untuk melindunginya. Jika ada yang salah, saya tidak akan membelanya. Joseon saya akan seperti ini.

PM Hwon membungkuk pada Raja lalu jalan keluar. Ia membuka pintu dan berhadapan dengan Raja Hwon dewasa. Keduanya bertatapan.

PM Hwon marah, apa kau sudah lupa dengan keputusanmu untuk mengubah bagaimana mengurus urusan negara? Apa ini yang kau sebut politik? Jangan bilang kau sudah melupakannya?
Raja tertegun, ia tidak bisa menjawab.

PM Hwon meninggikan suaranya, biarkan semua hal dan semua orang kembali ke posisinya yang semula. Turunkan orang yang tidak berhak menduduki posisinya dan kembalikan mereka yang seharusnya menduduki posisi itu.
Ini adalah tugas dari Raja. Ini adalah jalan yang seharusnya kau ikuti. Jangan bilang kau sudah melupakannya?

PM Hwon jalan melewati Raja. Raja gemetaran.
(wow...dua orang aktor pintar saingan akting...keren.)

P. Min Hwa ingin bertemu Raja, tapi Dayang tidak tahu kemana Raja. Saat Min Hwa hampir pergi, Raja datang. Min Hwa senang melihat kakaknya, Orabeoni Mama!
Tapi sebaliknya Raja tampak muram melihat Min Hwa.

Min Hwa duduk dan tampak ceria, Orabeoni Mama, benar kata Ibu, kalau kesehatan anda tampak semakin membaik. Tapi kenapa wajah anda terlihat sangat gelap?
Raja : Min Hwa.
Min Hwa : Ya, Orabeoni Mama..

Raja tanya apa Min Hwa memang begitu menginginkan Guru Heo. Min Hwa tidak mengerti, apa maksudnya. Raja tanya, itukah sebabnya kau melakukan hal sekejam itu?
Min Hwa mulai bisa mengerti maksud kakaknya, tapi ia pura2 tidak mengerti.

Raja marah, adik Guru Heo! mengapa kau melakukannya? Mengapa kau terlibat dalam prosesi membunuh Putri Mahkota dengan mantra? mengapa kau bisa? Raja teriak, mengapa?

Min Hwa menangis, ia membungkuk saya mohon, demi suami saya dan keluarganya tolong rahasiakan ini.
Saya minta maaf untuk semua kejahatan yang saya lakukan, tapi..suami saya dan keluarganya..

Raja minta Min Hwa mengangkat wajahnya, Raja membentaknya, apa kau tahu bencana seperti apa yang telah kau perbuat?
Min Hwa semakin keras menangis, dengan mata yang sama, dengan suara yang sama, dan juga dengan kata-kata yang sama, Abamama mengatakan itu juga pada saya.

Yeon Woo juga menangis mendengarnya. Ia merasa serba salah, karena Min Hwa sekarang adalah kakak iparnya.
Flashback, Min Hwa remaja, berlutut dan menangis di depan Raja, ia mohon agar diselamatkan.
Ayahnya murka, apa kau tahu bencana seperti apa yang sudah kau perbuat!

Min Hwa menangis, saya tidak tahu..saya benar-benar tidak tahu. Nenek yang menyuruh saya untuk duduk saja di sana, dia berkata kalau saya melakukan itu, maka saya bisa menikah dengan guru Heo.
Saya benar2 tidak tahu kalau itu akan membunuh Yeon Woo..

Raja menyingkirkan meja dan memegang kedua lengan Min Hwa, dengarkan aku baik-baik. Masalah ini, tidak boleh diketahui oleh siapapun. Sampai kau mati, kau tidak boleh mengatakan sepatah katapun. Kau mengerti?

Min Hwa dewasa menangis dan berkata, kalau saat itu, dia hanya bisa menjawab tidak tahu. Karena saya benar2 tidak tahu.
Setelah itu, melihat suami saya duduk di kamar adiknya, menangis dengan air mata darah, saya..saya menyadari akibat yang sudah saya perbuat.

Raja juga menangis, ia marah tapi tidak berdaya, kau sudah melakukan kesalahan besar pada mendiang Abamama kita. Kau melakukan dosa besar pada mendiang Kepala Sarjana dan padaku serta Yeon woo. Semua kesalahan itu, bagaimana kau akan membayarnya?

Min Hwa : Meskipun saya kembali ke waktu itu, saya..saya akan tetap memilih suami saya. Meskipun ada konsekuensinya nanti, meskipun saya harus dibakar dalam api neraka setelah saya mati, pilihan yang sudah saya ambil, tidak akan saya sesali.

Raja : Aku akan membuangmu. Hanya dengan membuangmu, hanya dengan cara ini, orang lain yang terlibat akan bisa dihukum. Tapi kau..

Min Hwa : Saya akan dengan senang hati menerima hukuman saya. Tapi, suami saya dan di dalam rahim saya.. ada anak suami saya. Tolong jangan buang mereka.

Raja syok, tadi barusan, apa yang kau katakan?
Min Hwa menghapus air matanya, ia berkata harus pergi. Min Hwa membungkuk dan jalan keluar. Raja tidak tahu harus berkata apa, ia diam saja dengan air mata berlinang.

Raja stres, ia teriak2 marah.

Heo Yeom mondar mandir di depan rumah menunggu istri dan ibunya. Min Hwa pulang. Yeom menyambutnya dan tampak cemas, apa kata Tabib istana.

Min Hwa tampak muram. Yeom jadi takut, apa hasilnya buruk. Min Hwa menggeleng, ia berkata ada anak Yeom dalam perutnya.

Yeom senang sekali, lalu minta maaf, seharusnya ia tahu. Tapi ia justru tidak tahu.
Min Hwa berkata tidak apa-apa, ia juga tidak tahu. Wajah Min Hwa muram dan ia tampak bingung, Yeom tanya apa Min HWa tidak menginginkan anak ini.

Min Hwa menggeleng, bukan itu. Justru ia sangat menginginkannya. Yeom tampak gembira dan mengucapkan terima kasih. Ia merasa selalu menerima kebaikan Min Hwa, tapi tidak bisa membalasnya, Yeom minta maaf.

Yeom janji akan semakin baik pada Min Hwa agar bisa menghadap ayahnya dengan bangga. Kau benar2 luar biasa.

Min Hwa semakin merasa sedih dan menangis. Yeom memeluk Min Hwa, ia menghibur istrinya, jangan seperti ini. Bayinya nanti akan takut.

Seol mengamati pasangan itu dengan wajah sedih.

Seol kembali ke penginapan. Jansil sedang asyik main batu dan ia mendapatkan sesuatu. Jansil langsung meramal anak Yeom, seorang anak laki-laki.

Jansil : Seperti ayahnya, dia akan menjadi pintar, luar biasa bijaksana, terhormat dengan integritas yang tidak diragukan. Dia akan menjadi pilar langka bagi negara.

Seol duduk dan menangis keras. Jansil terkejut, eonni..ada apa? Lalu ia menutup mulutnya, astaga..aku pasti salah bicara.

Nok Young membuka pintu kamarnya, ia berkata sudah kubilang jangan kesana lagi kenapa kau tidak mendengarnya?
Seol menangis, sungguh malang..Tuan Mudaku. Apa yang harus kulakukan? Wanita yang membunuh adiknya sekarang mengandung anaknya. Bagaimana ini bisa terjadi?

Nok Young minta Seol diam. Seol berkata seharusnya Nok Young tidak mengatakan ini padanya. Nok Young kesal, Seol sendiri yang mengancamnya, jika aku tidak mengatakan yang sebenarnya maka kau akan langsung lari ke istana dan mengatakan semuanya.
Itulah sebabnya aku mengatakan padamu.

Seol : Nona dan Tuan muda kami sungguh malang..apa yang bisa kulakukan?
Nok young hanya menghela nafas. Wajahnya tampak sedih.

Raja masih duduk diam. Yeon woo memanggilnya, Yang Mulia. Yang Mulia..apa saya boleh masuk?

Raja melarangnya, tidak boleh. Aku..tidak bisa melihat wajahmu. Aku bersumpah untuk menemukan orang-orang yang telah melakukan ini padamu, dan kemudian menghukum mereka. Tapi.. mereka yang bertanggung jawab ternyata adalah darah dagingku sendiri.
Mereka yang mengirim mantra, mereka yang membunuhmu, dan mereka yang menutupi kebenaran tentang kematianmu, semuanya adalah darah dan dagingku. Apa hakku melihatmu?

Raja menunduk dan menangis sedih.

Yeon Woo keluar dan duduk di depan Raja, Raja memandangnya. Yeon Woo berkata kenapa waktu ia sudah ingat lagi, ia tidak mengatakan pada Raja, karena ini yang ia takutkan. Yaitu Raja yang akan menyalahkan diri sendiri dan tidak akan melihat kepadanya. Ini yang saya takutkan.

Raja : Kau menjadi seperti ini, ini semua karena aku.
Yeon Woo : Kalau anda mengatakan itu saya akan menyesal kalau saya hidup.

Raja : Lalu apa yang harus kulakukan?
Yeon Woo minta Raja tetap merahasiakannya. Jika kakaknya tahu kebenarannya, ini akan sangat berat baginya.

Raja tidak mengerti, apa Yeon Woo tidak merasa sakit hati karena harus bersembunyi selama 8 th ini, apa kau tidak merasa terluka karena harus menderita selama itu?

Yeon Woo berkata tidak ingin membagi semua penderitaan dan kemarahannya pada kakaknya.

Raja: apa kau cuma tahu memikirkan kakakmu? Apa kau tidak merasa kasihan padaku? Jika kau bukan Ratu, aku harus memeluk wanita lain. Apa kau tidak merasa kasihan padaku?
Bagaimana dengan dirimu sendiri?

Keduanya menangis putus asa.

Paginya, Raja menemui Ibu suri Tua dan memintanya pergi ke istana Onyang (Istana khusus untuk liburan keluarga Raja dan ada pemandian air panasnya). Neneknya terkejut.
Raja berkata meskipun musim semi sudah mulai mendekat, tapi udara masih terasa dingin dan dibandingkan istana ini, tempat itu lebih cocok untuk Ibu Suri Tua.

Ibu Suri Tua : Apa benar hanya untuk alasan kesehatan anda ingin saya pergi ke istana Onyang atau..

Raja tidak basa basi lagi, ia membenarkan. Sudah waktunya bagi Ibu suri Tua untuk melepaskan kekuatan politiknya. Dan Raja ingin Ibu Suri Tua istirahat saja dengan nyaman.

Ibu Suri Tua marah, ini tidak mungkin, Yang Mulia. Tidak ada orang yang bisa menyingkirkan saya dari posisi ini.

Raja memberikan pilihan, Pergi ke Istana Onyang sesuai nasihat saya, atau pergi ke ruang interogasi dan menghadapi pengadilan.

Ibu suri tidak percaya, Ruang Pemeriksaan? Pengadilan? Kesalahan apa yang sudah saya lakukan sehingga anda mengatakan hal seperti ini?

Raja : 8 th lalu..kejahatan karena membunuh Putri Mahkota yang tidak bersalah menggunakan mantra.
Ibu Suri Tua menantang : Tolong berikan bukti.

Raja : Juga, menggunakan cucu anda dalam mantra untuk melakukan pembunuhan itu.
Ibu suri Tua : Tolong berikan bukti.

Raja teriak : Jangan menyamakan saya dengan Abamama. Untuk menentukan siapa yang bersalah dalam masalah ini, saya tidak akan membuat pengecualian hanya karena hubungan keluarga.
Jadi, saya minta Nenek menyingkirkan semuanya dan pergi ke istana Onyang. Ini..adalah konspirasi yang bisa saya tawarkan sebagai cucu Nenek.

Ibu suri Tua : Yang Mulia, apa yang anda dapatkan dengan melakukan ini?
Raja : Keadilan. Saya bisa mendapatkan satu hal itu.

Ibu Suri Tua : Anda tidak tahu kalau ada waktunya anda masih membutuhkan saya.

Raja : Anda berkata akan ada hukuman untuk orang yang berbuat kejahatan, itu adalah hal yang wajar. Jadi, kita hanya bisa melakukan sesuai aturan yang berlaku. Nenek harus mematuhinya sesuai dengan faktanya.
Saya berniat untuk segera meluruskan semua hal yang salah. Lalu..saya akan mengembalikan semua ke tempatnya yang semula.

Ibu suri Tua marah, Yang Mulia anda tidak bisa memperlakukan saya seperti ini.

Raja hanya berkata ia tidak bisa mengantar Neneknya berangkat besok pagi, jaga kesehatan Nenek.
Raja pergi.

Ibu Suri Tua teriak, Yang Mulia! takhta yang anda duduki saat ini, jangan bilang anda tidak tahu siapa yang membuatnya mungkin? Saya! Saya! Nenek anda! demi Yang Mulia..saya membiarkan tangan saya berlumuran darah demi mengamankan posisi anda! sekarang, anda ingin saya pergi ke istana Onyang?
Bagaimana anda bisa meminta saya melepaskan posisi saya? Ini tidak mungkin! Ini tidak bisa, anda tidak..

Ibu Suri Tua emosi dan pingsan, entah sungguhan entah pura2. Bak Sanggung terkejut dan segera memanggil tabib istana.
Raja cuek, bahkan menolehpun tidak.

Para menteri gelisah, Menteri Keuangan tidak mengerti kenapa Ibu suri Tua mendadak pergi ke istana Onyang. Mereka mendengar kalau Raja yang memerintah neneknya untuk mundur dari dunia politik.

Raja sudah tidak menghormati Neneknya lagi. Para menteri tahu Raja sudah menghunus pedang melawan mereka, dia akan segera menghabisi kita.

Para menteri merasa tidak aman lagi jika Raja sudah tahu segalanya dan memutuskan menyerang mereka. Tidak ada dari kita yang akan selamat. Menteri Han tanya pada Perdana Menteri Yoon, apa yang harus mereka lakukan.

Yoon : Maka, satu-satunya pilihan adalah menyerang lebih dulu. Jika kau tidak menyukai Kuil, maka minta pada pendeta untuk pergi. (itu peribahasa kuno), tapi dengan begitu banyak pendeta, apa perlu memaksa mereka semua untuk pergi, kalau masalahnya bisa diselesaikan dengan hanya mengganti kepala pendeta.
Jadi maksudnya, ganti Raja saja. Itu lebih masuk akal bagi para menteri.

Yang Myung siap meninggalkan kuil. Lady Park tanya apa harus pergi sekarang. Yang Myung berkata kalau lukanya sudah sembuh dan ia tidak apa-apa. Lagipula dia bukan umat Budha, jadi tidak ada alasan bagi Yang Myung untuk tinggal di kuil.

Lady Park mengajak Yang Myung jalan2 sebentar. Ia memanggil nama anaknya. Yang Myung menjawab dan dengan gaya bercanda ia berkata pada ibunya, kalau ia tidak akan goyah dan tidak akan hancur seperti yang ibu inginkan.

Lady Park : Mulai sekarang, kau harus mengikuti hatimu dan pikiranmu sendiri, Yang Myung-gun. Dan hiduplah sesuai kata hatimu.

Yang Myung : Apa ibu serius?
Lady Park : Karena aku mempercayaimu, Yang Myung-gun. Karena aku percaya kau akan membuat keputusan yang benar.

Yang Myung : Percaya. Apa ibu tahu betapa menakutkannya kata itu?

Lady Park : Yang Myung-gun, segalanya akan berlalu. Seperti berlalunya waktu, musim juga akan berubah. Satu hari, kesedihan juga akan lenyap.
Lebih jauh lagi, pernikahan yang lebih baik, yang ditentukan oleh takdir, sedang menantimu. Apapun yang akan kau hadapi di masa mendatang, Yang Myung-gun, pilihan apapun yang kau buat dalam hidupmu, sebagai ibumu, aku sungguh percaya padamu Yang Myung-gun.

Yang Myung : Ibu bilang, apapun yang saya pilih?
Lady Park : Ya, apapun yang kau pilih.

Yang Myung jalan pulang dan menemukan beberapa bangsawan di depan kediamannya. Mereka juga membawa banyak bingkisan. Semua langsung menyambut Yang Myung saat melihatnya. Yang Myung-gun!

Yang Myung mendekat, mengapa kalian berkumpul disini di cuaca sedingin ini?

Salah seorang bangsawan berkata mereka hanya datang untuk menyampaikan hormat. Yang Myung yang mengerti maksud mereka mengundang mereka masuk ke dalam. Semua tampak gembira.

Yang Myung-gun mendengar ocehan para bangsawan itu dengan gaya mengantuk. Mereka berkata kalau Raja yang sekarang membuat anggota dewan resah. Masa depan negeri ini tidak jelas karena Raja belum memiliki keturunan. Tapi bukan masalah itu, Raja bahkan tidak melakukan malam pertamanya. Mereka berkata mulai cemas.

Yang Myung : Keluhan itu tidak mendasar karena Yang Mulia masih muda dan tubuhnya sehat. Apa yang kalian cemaskan?

Mereka membenarkan, tapi mereka memikirkan bersiap-siap jika terjadi sesuatu.

Yang Myung : Membuat persiapan? Itu tidak buruk.

Mereka mulai menyinggung apa Yang Myung tidak merasa dilangkahi oleh adiknya. Karena Yang myung adalah putra tertua Raja, bahkan sebenarnya, untuk menjadi penguasa anda lebih dari mampu.
Yang Myung berkata mereka menyinggung masalah yang sangat berbahaya. Apa sebenarnya maksud kalian?

Mereka berkata jika Raja tidak mampu mendapatkan keturunan, akan ada ketidakbenaran dalam pemilihan calon pewaris berikutnya. Apa tidak akan terlambat jika hanya diam saja.

Yang Myung memancing, jadi apa yang harus kulakukan? Meninggalkan Raja dan mengikuti kalian?


Yang Myung menarik keluar pedangnya, dan bertanya : Pedang ini indah, ya kan?
Bangsawan itu terbata, y..ya..memang indah.

Yang Myung berkata, sayang sekali, pedang berharga ini harus ternoda oleh darah kotor dari lalat2 menyebalkan. Lalu Yang Myung mengarahkan pedang ke leher bangsawan itu. Leher siapa yang harus kupotong lebih dulu? Jika aku membawa lehermu pada Raja, berapa yang akan kudapatkan?

Mereka ketakutan, bagaimana anda bisa menyebut kami penghianat? Kapan kami..anda salah paham, P. Yang Myung.
Yang Myung mengancam akan memotong lidah mereka dulu.
Mereka berkata hanya mencemaskan negeri ini saja, lalu mereka buru-buru pergi. Kecuali satu bangsawan yang ditahan Yang Myung.

Pria itu akhirnya dilepaskan Yang Myung dan menghadap Yoon. Ia berkata percuma saja membujuk Yang Myung-gun. Saya pikir dia tertarik dengan usul kami saat mengundang kami masuk ke dalam rumahnya, tapi saya hampir kehilangan kepala.

Yoon berkata akan membosankan jika Yang Myung menyerah dengan mudah.

Flashback, Yang Myung-gun tanya pada pria itu siapa yang ada di belakang mereka dan minta orang itu datang langsung menemuinya kalau ada yang ingin ia katakan.

Yoon mengerti dan minta bangsawan itu pergi. Menteri2 lain tidak mengerti kenapa Yoon akan menggunakan Yang Myung-gun. Bukankan ia setia pada Raja.

Menteri Keuangan berkata Yang Myung-gun berani mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan seorang gadis. Tapi akhirnya gadis itu diambil oleh Yang Mulia. Jadi selalu ada motif untuk membuat Yang Myung melawan Raja.

Menteri Han tidak percaya, apa hanya karena seorang gadis maka Yang Myung-gun akan melawan Raja. Apa itu tidak berbahaya? meskipun mereka selisih pendapat, tapi Yang Myung-gun tidak akan menghianati Raja dengan mudahnya.

Yoon : Penghianat biasanya datang dari orang yang paling dekat. Retakan kecil bisa menghancurkan sebuah bendungan. Salah paham kecil bisa mengakibatkan satu tragedi. Jika Raja meninggal, yang kemudian akan naik takhta adalah Yang Myung-gun. Jadi, ia akan mengambil alih takhta.
Lagipula, Yang Myung-gun adalah calon yang paling pantas.

Mereka harus cari cara membuat Yang Myung setuju. Yoon bicara dalam hati kalau ia punya kartu as untuk ditunjukkan pada Raja.

Paginya, Ratu melihat ibunya bersama seorang gadis remaja. Kebetulan Yoon juga melihat istrinya. Istri Yoon berkata kalau gadis ini adalah keponakannya yang ia ceritakan waktu itu.

Ny. Yoon ingin membawa gadis itu pada Ratu sebagai teman karena Ratu sangat tertekan. Yoon tanya siapa nama gadis itu. Gadis itu berkata, nama saya Kim Su Yeong.
Yoon : Apa ini pertama kalinya kau masuk istana?
Su Yeong : Ya.
Yoon : Bagaimana menurutmu?
Su Yeong : Bangunan istana yang berlapis bagaikan penjaga untuk Raja dan Ratu. Saya sekarang menyadari kalau istana ada 9 lapis. Jika saya bisa tinggal di tempat seindah ini, pasti menyenangkan.

Yoon tanya apa Su Yeong mau tinggal di istana. Su Yeong mengiyakan. Yoon tampak kagum dengan kepandaian anak itu dan menyuruhnya melihat2.

Ratu ingat ayahnya juga tanya hal yang sama kepadanya. Ibu Ratu memanggil Ratu, tapi ayahnya hanya melihat sekilas dan pergi.

Ny. Yoon mengenalkan Su Yeong pada Ratu dan berharap Su Yeong bisa menjadi teman untuk Ratu.
Ratu berkata kalau ayahnya mungkin akan membuangnya. Ny. Yoon tidak percaya, bagaimana mungkin ayahnya akan membuang Ratu.

Ratu : Jika itu Ayah, ia sanggup melakukannya, jika ia tidak membutuhkan aku, meskipun aku putrinya sendiri, dia bisa membuangku tanpa ragu.
Ny. Yoon : Lalu siapa yang akan menggantikan posisi anda sebagai Ratu?

Ratu melihat ke arah Su Yeong. Ny. Yoon tampak terkejut, ia memanggil Jo Sanggung untuk mengajak Su Yeong keluar untuk minum teh.

Setelah hanya berdua saja, Ny. Yoon berkata meskipun mungkin Ratu benar, tapi anak itu dibawa masuk ke istana sebagai anak angkat, dia hanya bisa menjadi selir. Lagipula, Yang Mulia tidak akan tertarik pada gadis muda.
Ratu : Jika orang yang duduk di takhta berubah, situasinya akan menjadi lain.

Ny. Yoon terkejut, Orang yang duduk di takhta bagaimana bisa berubah?
Ratu : Jika itu ayah, semuanya mungkin.

Pelayan Yang Myung berkata ada orang yang ingin bertemu Yang Myung. Yang Myung tidak mengijinkan tamu masuk.
Pelayan : Saya..pelayan rendahan, tidak berani menyinggung orang ini.

Yang Myung akhirnya keluar dan melihat Yoon berdiri di halaman rumahnya.

Yoon : Saya datang kesini untuk meminta anda minum bersama, Yang Myung-gun.

Keduanya duduk di dalam, Yoon menuangkan anggur untuk Yang Myung. Yang Myung berkata, ada sekelompok tikus datang menyiapkan jalan, jadi mereka tidak perlu basa-basi dan langsung saja pada maksud Yoon.

Yoon : Jujur saja, apa anda tidak ingin menjadi Matahari?
Yang Myung : Apa anda tidak tahu arti kata2 anda, Perdana Menteri?

Yoon tahu. Yang Myung tanya kenapa memilih dirinya sebagai Raja. Kenapa tidak cari orang lain saja.
Yoon berkata untuk jadi Raja diperlukan motivasi dan kualifikasi.

Yang Myung merasa tidak memiliki keduanya, ia hanya seorang dengan jiwa yang bebas. Posisi Raja tidak cocok untuknya. Jadi kau tidak perlu melibatkan diriku dalam konspirasi ini.
Yoon berkata kalau semua tingkah laku Yang Myung sebenarnya hanya untuk menutupi kemampuannya menjadi Raja? Bagaimana saya tidak akan mengetahuinya?

Yang Myung ketawa, astaga! Kau sudah tahu rupanya? Maka kau pasti tahu kalau aku tidak ingin ditarik melawan angin. Jika kau pergi sekarang, aku akan merahasiakan ini dari Yang Mulia.

Yoon : Apa anda ingin selamanya tinggal di bawah bayangan Yang Mulia sepanjang hidup?
Yang Myung berkata meskipun ia punya motivasi dan kualifikasi, diperlukan pembenaran untuk mengadakan pemberontakan.

Yoon berkata kalau masalah pembenaran itu mudah. Misalnya, menghindari tanggung jawab memberikan keturunan untuk negeri ini, Raja sudah membuat negara goyah dan membuatnya menjadi Raja tidak bertanggung jawab.

Dua, di negeri yang menganut paham Confusianism, dia menginginkan seorang peramal dan menyembunyikannya di dalam kamarnya. Raja yang tidak jelas. Tidak mendengarkan nasihat para senior, Raja yang tidak berguna. Ini seharusnya cukup.

Yang Myung tampak marah, peramal itu bukan peramal biasa. Dia adalah Putri Mahkota yang meninggal 8 th lalu dan hidup kembali. Beraninya kau menghinanya seperti itu.
Yoon : Jadi, anda sudah tahu masalah itu.

Yang Myung : Aku tahu karena otakku bekerja lumayan baik.
Yoon : Jadi, anda sudah tahu, tapi tetap saja menginginkan wanita milik Raja. Anda pasti tahu kalau ini terlalu serakah.

Raja bertemu Hong Kyu Tae. Raja memuji dan berterima kasih pada Hong Kyu Tae, karena Hong, ia bisa mengungkap banyak hal.
Hong : Saya merasa terhormat, tapi saya takut hasil penyelidikan saya, menyusahkan Yang Mulia.

Raja membutuhkan informasi itu untuk mengerti apa yang terjadi. Raja ingin memberi penghargaan untuk Hong, tapi ada sesuatu yang lebih menekan saat ini.
Hong : Apa yang anda butuhkan?

Hyung Sun memberikan daftar pekerjaan untuk Hong. Raja berkata di dalam surat perintah rahasia itu ada hal-hal yang harus dilakukan dan orang yang harus kau temui.
Raja minta Hong menghancurkan daftar perintah itu jika Hong sudah menghafalnya.

Hong mengerti, saya akan mematuhi perintah anda.

Raja bicara pada Yeon woo di balik tirai, karena aku sudah siap menuduh mereka, maka mereka pasti akan mencoba menyerang balik. Mereka pasti akan menyebarkan rumor untuk menjelekkan namaku.
Yeon Woo : Saya takut, kehadiran saya telah menyulitkan Yang Mulia.

Raja : Apa kau berpkir aku akan membiarkan mereka menyerangku. Tunggu dan lihat saja. Akan ada cerita yang menarik yang akan menyebar diantara rakyat.

Raja mengajak Yeon Woo jalan-jalan ke paviliun Bulan Tersembunyi. Raja berkata sudah menyembunyikan hadiah di situ.
Yeon Woo merasa sudah punya segalanya, bagaimana bisa meminta yang lain lagi.

Raja berkata sudah menyiapkannya, dan menyuruh Yeon Woo mencarinya. Yeon woo serius mencari disekitar Paviliun. Raja geli, kau terlalu sungguh2 mencari untuk orang yang berkata tidak ingin apa-apa.

Yeon Woo mengira barangnya terlalu kecil dan tidak tampak mata. Raja berkata kecil apanya? Tidak kecil.

Yeon woo jalan dan bahkan mengira Raja akan memberikan Paviliun Bulan tersembunyi ini untuknya.
Raja : Kau benar2 berpikir terlalu besar. Bukan itu.

Yeon Woo : Lalu apa itu?
Raja : Apa yang ingin kuberikan padamu, tidak ada yang bisa menggantikannya.
Di dunia, hanya ada satu. Semua wanita sangat menginginkannya. Satu-satunya.

Yeon Woo curiga, apa mungkin..
Raja : Sepertinya kau sudah menebaknya. benar, itu aku!
Yeon Woo tertawa.

Raja : Kenapa kau tertawa seperti itu? Jangan bilang kalau kau berpikir ini lucu.

Yeon Woo : Bagaimana saya berani tidak menghormati Yang Mulia? Ini karena saya bahagia.
Raja memeluk Yeon Woo, kau sudah memberikan hatimu padaku. Aku akan memberikan kepadamu segalanya yang kumiliki.

Yoon tanya apa Yang Myung sudah melepaskan peramal itu. Raja akan membuat peramal itu menjadi selirnya. Lagipula, bukankah mendiang Raja memperlakukan anda dan Raja sekarang dengan cara berbeda. Bukankah dia tidak memperhatikan anda, Yang Myung-gun?
Apa mungkin anda sudah dilupakan?

Yang Myung : Perdana Menteri Yoon, kau salah. Apa kau berpikir kalau aku, Yang Myung, karena kecemburuan pada Yang Mulia, akan merebut takhta? Aku tidak punya keinginan menjadi Raja. Aku tidak ingin berkonspirasi melawan Raja..demi kekayaan, terkenal ataupun kekuatan. Aku tidak membutuhkannya.

Yoon merasa kecewa karena Yang Myung tidak sesuai dengan perkiraannya. Diam-diam ia menyentuh pedangnya di bawah meja dan berkata dalam hati, tanpa ambisi ataupun aspirasi, ini sangat mengecewakan. Ini membuatku tidak punya pilihan.
Bidak catur yang tidak berguna hanya bisa disingkirkan.

Yang Myung-gun mendekatkan tubuhnya, Yang kuinginkan...adalah Memimpin Upacara ritual di Kuil Jongmyo (Kuil Khusus yang ada di makam Raja2) dan..Heo Yeon woo. Hanya dua hal itu.

(Dengan kata lain, untuk bisa jadi pemimpin Upacara ritual di Kuil Kerajaan, Yang Myung harus menjadi Raja. Yang Myung sebenarnya adalah putra tertua Raja dan seharusnya dia yang menjadi pemimpin upacara ritual di Jongmyo. Tapi karena Ratu juga punya anak laki, PM Hwon. Maka Yang Myung kehilangan haknya sebagai penerus takhta. Yang Myung ingin jadi pemimpin upacara ritual demi diakui sebagai putra tertua Raja. Yang Myung hanya membutuhkan pengakuan.)

The Moon [1], [2], [3], [4], [5], [6], [7], [8], [9], [10], [11], [12], [13], [14], [15], [16], [17]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Terkait